produksi-batu-bara-bakal-dibatasi

Posted On July 6, 2017 By In BEKIAS KEDIP MATA And 474 Views

Produksi Batu Bara Bakal Dibatasi, Apa Tujuannya?

Mulai 2019, Maksimal 400 Juta Ton Per Tahun


SEGERA DISESUAIKAN: Aturan pembatasan produksi batu bara dikeluarkan tahun ini, agar pada 2019 mendatang industri dapat menyesuaikan. (DOK

PROKAL.CO, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menyusun beleid pembatasan produksi batu bara mulai 2019 mendatang. Menurut rencana, pengerukan emas hitam hanya boleh menyentuh angka maksimal 400 juta ton per tahun.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sri Raharjo mengatakan, pembatasan bertujuan untuk menyesuaikan produksi batu bara dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dari Bappenas. Selain itu, pembatasan batu bara juga ditujukan untuk mengatur produksi yang dihasilkan dari Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan Pemerintah Provinsi.

Pasalnya, besaran produksi dari IUP provinsi kadang tidak terlacak pemerintah pusat. Tahun lalu, produksi batu bara nasional menembus angka 434 juta ton atau melebihi 3,57 persen dari target sebesar 419 juta ton.

“Untuk produksi dari provinsi ini susah dikontrol. Kalau di bawah kendali kami, seperti Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) atau Penanaman Modal Asing (PMA) bisa diatur,” ujarnya di Kementerian ESDM, Selasa (4/7).

Sebetulnya, kata Sri, penyusunan aturan ini sudah dilakukan sejak lama. Hanya saja, pemerintah mengaku kesulitan melakukan formulasi perhitungan produksi batu bara nasional apabila aturan terkait keluar.

Saat ini, banyak IUP yang sudah memasuki masa eksplorasi, sehingga produksi di masa depan kemungkinan bisa membeludak. Di sisi lain, pemerintah tak mau membatasi investasi perusahaan batu bara.

Jika nanti IUP eksplorasi sudah berproduksi, diharapkan hasilnya bisa disesuaikan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Pertambangan yang disusun perusahaan. “Kalau nanti perusahaan minta tambah, barangkali kami mesti evaluasi. Istilahnya, kami ketatkan,” imbuh Sri.

Meski produksinya dibatasi, kebutuhan batu bara di masa depan tetap dibutuhkan untuk memasok Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Terlebih, bauran energi (energy mix) batu bara pada 2026 mendatang akan mencapai 50,4 persen, sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017-2026.

Karenanya, setelah pembatasan produksi, ada kemungkinan pemerintah juga akan membatasi ekspor batu bara. Dengan catatan, seluruh produksi batu bara nasional bisa diserap oleh kebutuhan domestik.

Namun, menurut RUPTL, penggunaan batu bara akan meningkat dari angka 84,8 juta ton pada tahun ini menjadi 152,8 juta ton pada 2026 nanti, sehingga seharusnya masih ada ruang untuk ekspor selama 10 tahun ke depan. “Tidak tertutup kemungkinan untuk membatasi ekspor. Tapi kapankah itu, masih belum tahu,” imbuhnya.

Sri menambahkan, rencana Peraturan Menteri ini sudah disampaikan kepada asosiasi pelaku usaha batu bara agar bisa disosialisasikan lebih lanjut ke produsen. Di samping itu, peraturan menteri ini sengaja dibuat tahun ini agar pelaku usaha bisa bersiap dua tahun mendatang.

“Pembatasan ini berlaku tahun 2019 karena momennya bertepatan dengan beroperasinya beberapa program listrik 35 ribu Megawatt (MW),”pungkasnya.

Sebagai informasi, pemerintah menargetkan produksi batu bara tahun ini sebesar 413 juta ton, yang disesuaikan dengan rencana Bappenas. Hingga April, produksi batu bara mencapai 93 juta ton atau 22,51 persen dari target tersebut.

Angka itu diperoleh dari produksi PT Bukit Asam (Persero) Tbk dan produksi PKP2B. Belum termasuk perusahaan pemegang IUP provinsi. (ant/man/k18)

Sumber : http://kaltim.prokal.co/read/news/304988-produksi-batu-bara-bakal-dibatasi-apa-tujuannya

About