Tol Listrik Kalimantan Rampung 2019

tol-listrik-kalimantan-rampung-2019
PLN:Kami Menginginkan Ada Kemudahan Bisnis dan Investasi

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Proyek tol listrik Kalimantan terus dikebut PLN. Hal ini sehubungan dengan target pembangunan program pembangkit 35.000 megawatt (MW) yang dijadwalkan rampung 2019 mendatang.

General Manager PLN Wilayah Kaltim-Kaltara (Kaltimra) Rustamadji menyebutkan, kondisi terkini di Kaltim dari beban puncak Sistem Mahakam sekitar 370 ribu MW dan daya pasok sebesar 471 MW. Diketahui, Sistem Mahakam merupakan tulang punggung sistem kelistrikan empat daerah di Kaltim. Yakni Balikpapan, Kutai Kartanegara, Samarinda, dan Bontang.

Namun, dengan beroperasinya PLTU Teluk Balikpapan di Kariangau, Balikpapan Utara, pasokan daya ke Sistem Mahakam mencapai 500 MW. Daya ini belum termasuk pembangkit berbahan bakar solar yang berada dalam posisi stand by atau cadangan. Dengan begitu, PLN memiliki cadangan daya sebesar 200 MW. Tentu menjadi angin segar bagi siapa saja yang masih membutuhkan daya tersebut.

Hal itu disampaikannya dalam acara CustomerGathering 2017 PLN Kaltimra, Senin (8/5) malam di Balikpapan. “Kami menginginkan ada kemudahan bisnis dan investasi di Kaltim. Salah satunya, PLN bisa support dengan kemudahan akses listrik. Kami ingin menunjukkan kalau menyambung listrik mudah. Bahkan saat ini daya tersedia dan siap pasok,” kata mantan GM PLN Bangka Belitung itu.

Selain itu, PLN telah berkomitmen untuk menyediakan infrastruktur ketenagalistrikan di Kaltim. Direktur Bisnis PLN Regional Kalimantan Djoko Abumanan menjelaskan, PLN sedang mengemban tugas utama, yakni membangun tol listrik Kalimantan. Pria ramah ini menargetkan, tol listrik dari jalur Sangatta menuju Bontang dapat rampung akhir tahun ini. Kemudian terus berlanjut pembangunan dari Teluk Balikpapan – Petung – Kuaro.

Pihaknya saat ini dalam masa membangun transmisi. Pertama, dengan menciptakan koneksi dari sisi Kalsel dan Kaltim. “Saat ini, Petung dan Kuaro (Penajam Paser Utara) sedang dibangun. Sedangkan Kuaro sendiri sudah masuk dari sistem Kalsel. Kami berharap tol listrik Kaltim – Kalsel – Kalteng selesai secepatnya. Sehingga 2019 nanti, semua kelistrikan antarprovinsi dapat tersambung dalam satu sistem tol listrik dan dapat digunakan bersama,” bebernya.

Jika dilihat per regional, ucap Djoko, Kaltim sudah memiliki pasokan daya yang cukup besar dari PLTU Teluk Balikpapan dengan 200 MW. Diakuinya, PLN Kaltimra menggantungkan harapan kepada PLTU Teluk Balikpapan 2×100 MW. Karena itu, pembangkit ini akan memiliki peranan besar untuk memasok listrik di wilayah Kaltim.

“Bahkan berperan pada Sistem Mahakam yang saat ini mematok kebutuhan listrik bagi empat kota. Yakni Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, dan Bontang. Nantinya sampai Penajam,” ucapnya.

Berikutnya yang paling cepat, pasokan dari PLTU Muara Jawa 2×27,5 MW. Lalu, PLTU Senipah 30 MW dengan status independent power producer (IPP). Tidak ketinggalan, kerja sama dengan PLTU Embalut 2×100 MW milik PT Cahaya Fajar Kaltim (CFK). “Masih ada lagi yang saat ini sedang masa konstruksi membangun daya tambahan dari PLTU Bontang 30 MW dan IPP Graha Power Bontang 2×100,” ujarnya.

Besarnya cadangan daya ini membuat PLN terus membangun komunikasi dan menyebarkan informasi kepada parapelanggan agar daya tersalur. Kemudian, mendengar bagaimana tanggapan dan saran dari mereka. Salah satunya pelanggan yang berasal dari kawasan industri yang turut menjadi perhatian PLN. Ia meyakini, dukungan listrik kepada kawasan industri akan memberikan efek yang begitu besar.

Jika kawasan industri hidup, maka dapat menciptakan lapangan kerja baru hingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. “Saya lihat banyak kawasan industri yang berlomba membangun pembangkit. Padahal bisa sinergi dan kerja sama dengan PLN. Mungkin dengan cara pembangkit yang sudah ada kami beli, kemudian kami suplai listrik ke kawasan industri,” sebutnya.

Contoh yang sudah berjalan, yakni di Bukit Indah City milik kawasan industri Jababeka. Djoko mengatakan, kerja sama ini disebut sebagai aliansi strategi. Saat ini, harga tarif industri berkisar Rp 938 per kWh. “Kalau sekarang yang ada di Kaltim, yakni kerja sama dengan PT Kariangau Power, statusnya kontrak tahunan dengan skema excess power. Lalu, PLN dan Pemkab PPU juga telah membuat MoU, PLN menjadi pengelola suplai kelistrikan Kawasan Industri Buluminung,” jelasnya.

Djoko menuturkan, kendala utama dalam pembangunan tol listrik adalah penguasaan lahan. Namun, ia optimistis hal tersebut akan cepat teratasi dengan hadirnya kebijakan pemerintah melalui Perpres Nomor 4 Tahun 2016 dan Perpres Nomor 14 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan. “Tugas PLN secara nasional membangun program pembangkit listrik 35.000 MW. Namun untuk wilayah Kaltimra, targetnya hingga 2019 nanti PLN akan membangun 1.000 MW pembangkit dan jaringan sepanjang 2.900 kilometer sirkuit (kms),” tuturnya.

Ia menyebutkan, dalam menjaga pasokan energi listrik, harus siap dari segi pembangkit listrik, jaringan dan sistem distribusi. Tentu tidak mudah mencapai proyek 35.000 MW, tetapi dirinya optimistis semua itu dapat terjadi dengan terus menjalankan program lanjutan dan meningkatkan pelayanan berkesinambungan. (*/gel/riz/k15)

Sumber : http://kaltim.prokal.co/read/news/299790-tol-listrik-kalimantan-rampung-2019