Satu Kilometer Rp 11,5 Miliar, Dewan Soroti Hasil Pembangunan Jalan dan Terminal Bandara Maratua

satu-kilometer-rp-115-miliar
TINJAUAN LAPANGAN: Rombongan DPRD Berau ketika meninjau hasil pembangunan jalan dan terminal Bandara Maratua di Pulau Maratua, akhir pekan lalu.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Pembangunan sisi darat, khususnya terminal Bandara Maratua, jadi salah satu catatan DPRD Berau terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Berau Tahun Anggaran (TA) 2016. Pasalnya, ketika melakukan tinjauan lapangan hasil pembangunan TA 2016 di Maratua, rombongan DPRD menilai hasil pembangunan terminal tidak sesuai harapan.

Rombongan DPRD yang terdiri dari Abdul Waris, Vitalis Paulus Lette , Syahruni, Warsito, Husin Djufrie dan Firmansyah, melihat kondisi bangunan sudah terlihat kusam. Cat bangunan sudah sangat buram, teralis yang berkarat, hingga retakan di beberapa bagian dinding terminal.

Ketua Komisi I DPRD Berau Abdul Waris mengatakan, terminal Bandara Maratua yang dibangun dengan kucuran Rp 7,6 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Berau 2016, serta menjadi fasilitas penunjang utama di pulau pariwisata dan terluar Indonesia, hasilnya masih sangat mengecewakan.

“Untuk bangunan memang sudah selesai, tapi finishingnya perlu diperhatikan. Apalagi Bandara Maratua ini salah satu objek vital untuk menunjang sektor pariwisata kita (Berau, red),” ungkapnya kepada Berau Post, kemarin (7/5).

Selain tak puas melihat hasil pembangunan terminal bandara, rombongan DPRD juga menilai terjadi pemborosan dalam kegiatan pembangunan jalan kawasan Maratua sepanjang 2 kilometer yang menghabiskan dana Rp 23 miliar.

Menurut Waris, walau kebutuhan biaya pembangunan di pulau terluar tak bisa disamakan dengan di perkotaan, namun perbedaan yang mencolok juga menunjukkan adanya pemborosan. Sebab, dengan dana Rp 23 miliar yang artinya setiap kilometer jalan menghabiskan dana Rp 11,5 miliar, nilainya jauh lebih besar berkali-kali lipat jika dibanding pembangunan jalan perkotaan yang hanya membutuhkan Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar per kilometernya.

“Dengan kondisi dana defisit, akan kita evaluasi itu. Tapi kalau segi kualitas, belum bisa diuji karena sedikit dilewati kendaraan. Dan kami juga minta kepada aparat kecamatan (Maratua) supaya memantau, jangan sampai sudah digelontorkan dana besar, tapi tidak tahan,” ujarnya.

Lepas dari Maratua, rombongan DPRD melanjutkan peninjauan ke kegiatan pembangunan SMP 32 di Kampung Kasai, Kecamatan Pulau Derawan. Gedung SMP yang dibangun dengan dana sebesar Rp 3,2 miliar, diharapkan bisa terus dilanjutkan dengan pembangun pagar dan pengerasan lapangan. “Supaya tuntas pembangunannya,” jelasnya. Selain itu, Waris dan anggota DPRD lainnya juga meninjau hasil pembangunan dermaga di kampung tersebut yang menelan dana Rp 2,6 miliar.

Selain menyoroti hasil pembangunan di Maratua, sesuai hasil pengkajian LKPj oleh tim pakar dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Waris menilai ada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang buruk dalam penyerapan anggaran tahun 2016.

Oleh karena itu, dirinya menyarankan agar Pemkab Berau memberikan sanksi kepada OPD yang mendapat nilai buruk dalam pengelolaan anggaran tersebut. “Hukumannya, anggaran mereka di tahun berikutnya dikurangi. Nantinya anggaran mereka akan disalurkan ke OPD yang serapan anggaran dan realisasinya baik,” pungkas Waris. (sam/udi)

Sumber : http://berau.prokal.co/read/news/49426-satu-kilometer-rp-115-miliar-dewan-soroti-hasil-pembangunan-jalan-dan-terminal-bandara-maratua.html