Prestasi “Buruk” karena Masih Didominasi Migas-Batu Bara

Ekspor Kaltim Terbesar Se-Indonesia

MAKIN CEPAT HABIS: Mestinya industri Kaltim menjadi ujung tombak. Bila bergantung tambang batu bara dan migas, suatu saat akan habis dan Kaltim menjadi daerah tertinggal.(dok/kp)
Kaltim jadi provinsi dengan ekspor tertinggi di Indonesia pada 2013. Dari USD 182,57 miliar ekspor nasional, Kaltim menyumbang 17,04 persen. Berada di atas Jawa Barat dan Riau. Namun demikian, bukan berarti capaian ini prestasi. Kaltim justru disebut merugi karena ekspor didominasi bahan bakar mineral.BERDASAR rilis Badan Pusat Statistik (BPS) RI, perkembangan ekspor Tanah Air menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar periode Januari-Desember 2013 berasal dari Kaltim dengan nilai USD 31,10 miliar alias 17,04 persen ekspor Tanah Air. Terbesar kedua  adalah Jawa Barat sebesar USD 26,38 miliar (14,45 persen), dan Riau USD 22,61miliar (12,39 persen).
Sementara secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2013 mencapai USD 182,57 miliar. Namun demikian, capaian ini turun 3,92 persen dibanding periode yang sama pada 2012. Demikian pula ekspor non-migas yang mencapai USD 149,93 miliar atau menurun 2,03 persen.
Khusus Kaltim, bahan bakar mineral masih mendominasi ekspor provinsi ini. Dari nilai ekspor USD 31 miliar, kelompok komoditas terdiri dari batu bara, minyak, dan gas mencapai 93,4 persen. Hingga November, nilai ekspor bahan bakar mineral sudah menyentuh USD 26,47 miliar.
Sementara kinerja impor Kaltim tahun lalu, bahan bakar mineral turut menguasai, yakni 76,06 persen dari nilai impor USD 9,51 miliar. “Pada dasarnya, komoditas terbesar ekspor dan impor itu sama. Hanya, Kaltim mengekspor dalam keadaan mentah lalu mengimpor dalam kondisi sudah diolah dan siap dipakai,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Aden Gultom, belum lama ini.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim Slamet Brotosiswoyo mengatakan, nilai ekspor Kaltim yang tertinggi di Indonesia perlu ditinjau ulang apabila disebut prestasi. Jika komoditas ekspor didominasi sektor migas-batu bara, Kaltim justru merugi. “Ekspor sumber daya alam itu sama saja menghabiskan SDA secepatnya,” sebut Slamet.
Sumber daya alam yang digali habis-habisan untuk diekspor, bakal jadi preseden buruk buat daerah. Bakal rugi besar pula karena kerusakan lingkungan masif. Mesti diakui ekspor memberi keuntungan. Tapi, hanya dirasa sesaat.
“Kerusakan makin besar karena pemimpin tak konsekuen beri izin. Padahal mestinya ada kesepakatan kalau mau gali, kembalikan seperti semula nantinya. Tapi, di Kaltim kebanyakan tidak,” keluhnya.
Menurutnya, pemimpin yang berhasil menjalankan manajemen baik terhadap alam, lebih tepat disebut berprestasi. Berbeda halnya jika komoditas ekspor terbesar Kaltim justru berasal dari sektor industri. Jika demikian, Kaltim patut diacungi jempol. Namun, realitasnya sebalikya. Sektor industri Kaltim disebut Slamet sangat minim.“Pemimpin mestinya membina industriawan mengekspor produk mereka sebesar-besarnya. Kalau jadi yang terbesar di Indonesia, itu perlu didukung,” tutur dia.
Dia mengingatkan pemerintah memberi perhatian khusus kepada sektor industri, termasuk industri rumahan. Pasalnya, 2015 mendatang era ASEAN Community dimulai. Jika pengusaha tak punya daya saing, diyakini bakal terpental. Lebih-lebih hanya jadi konsumen. Publik mesti didorong jadi industriawan agar tak hanya jadi penonton. Bisa dilakukan lewat pembinaan pemerintah terhadap industri yang punya potensi dikembangkan dalam jangka panjang.
Di Tanah Air, ini bukan hal baru. Pulau Jawa merupakan contoh sukses daerah yang maju lewat sektor industri. Dari pabrik besar sampai rumahan. Namun demikian, tak dapat disamakan dengan Kaltim. Geliat industri Pulau Jawa sudah dimulai sejak lama. Bahan baku dengan sumber daya manusia pun melimpah. “Kalau Kaltim berbeda. Konsumen terbatas, pengusaha mesti inovatif,” imbuhnya. (*/bby/che/k7)
Sumber  : http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/70229/prestasi-buruk-karena-masih-didominasi-migas-batu-bara.html