Pendopo Senilai Rp 9,3 M Dikeluhkan Pelaku Seni

TENGGARONG – Pembangunan pendopo di belakang Kedaton mengundang pro-kontra. Pasalnya gedung kedaton yang dibangun sejak 2002 silam dengan dana Rp 9,3 miliar sebagai Istana Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura kurang dimaksimalkan oleh pihak kesultanan. Sejauh ini, gedung tersebut hanya difungsikan sebagai kantor lembaga kesultanan serta sebagai tempat pelaksanaan acara seremonial.

Hamsi Hamzah, pelaku seni di Tenggarong yang selama ini berkonsentrasi pada seni teater mengungkapkan keluhannya tersebut. Pasalnya fungsi dari bangunan tersebut belum terlihat untuk perkembangan seni dan budaya Kutai. “Sejak dulu yang dibutuhkan itu pembangunan gedung pertujukan kesenian. Bukan pendopo, yang saat ini saja kedatonya tak dimaksimalkan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, harusnya bangunan yang ada itu dimaksimalkan dulu, dengan cara pendekatan ke pelaku budaya dan seniman di Kutai Kartanegara. “Agar kedaton ini bisa hidup pengelolanya harus lebih dekat dengan masyarakat, khusunya pelaku seni dan budaya,” terangnya.
Menurut Hamzah, selayaknya di bangunan tersebut bisa digelar pertunjukan sepekan sekali, atau minimal sebulan sekali. Hal ini dianggap bisa membuat budaya dan kesenian Kutai bisa disaksikan wisatawan yang datang ke Tenggarong. “Saya sering menyaksikan jika ada turis, hanya berfoto-foto di luar pagar ini,” ujarnya.
Sekadar informasi, pembangunan pendopo ini dikerjakan PT Prampus Inti Puspita. Bangunan utamanya berukuran panjang 25 meter dan lebar 25 meter. Konstruksi seluruhnya dari beton sedangkan atapnya memakai genteng. Selain bangunan utama, pendopo tersebut juga didukung connecting bridge atau jembatan penghubung antara kedaton dan pendopo. Selain itu ada pembuatan parit lebar dengan yang sudah ada di kedaton sehingga terlihat imbang.
Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai hal itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kukar, Sri Wahyuni mengatakan, gedung pendopo ini akan difungsikan untuk upacara adat Erau Bepelas yang dilakukan sultan. Belakangan ini upacara bepelas yang rutin dilaksanakan di Museum Mulawarman mendapat keluhan, selain sempit, tamu undangan yang bisa ditampung ruangan ini sangat terbatas. “Teman-teman media dan para fotografer juga mengeluhkan sempitnya tempat bepelas ini, spot untuk mengambil gambar terlalu sempit, pencahayaannya juga kurang. Karena ini acara sakral, dan dapat masukan dari berbagai pihak maka kami bangun gedung itu,” jelasnya.
Mengenai gedung pertunjukan kesenian kata Sri, hal itu sudah dipikirkan. Tahun ini dianggaran untuk perencanaan pembangunannya. Mungkin tahun depan pembangunan gedung kesenian yang tertutup bisa terealisasi. “Tahun ini mungkin hanya akan dibangun gedung pertunjukan kesenian yang terbuka,” tutupnya.(adw/obi)