Pamit Ujian, Siswa Tinggal Tengkorak

Dihabisi Teman, Ditinggal di Jurang, Motor Dibawa Kabur

TENGGARONG – Malang nian nasib Nur Rahman (17), siswa SMA dari Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara (Kukar). Dinyatakan hilang 10 hari, dia ditemukan tinggal tengkorak di jurang di Desa Sumber Sari, RT 13, Kecamatan Sebulu, Senin (25/3). Rahman korban pencurian dengan kekerasan (curas) yang diduga dilakukan dua temannya. Seorang tersangka sudah diringkus polisi, yakni Andri Nasib Budi Susiairawan alias Iwan (22). Satu lagi, berinisial Wi (17) seorang pelajar yang masih dalam pengejaran.

Kasus ini terungkap berkat pengembangan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Muara Kaman dengan tersangka Iwan.  Dari pendalaman aparat, kasus tersebut membuka peristiwa kematian Rahman yang tak lain adalah pemilik sepeda motor merek Suzuki Smash berwarna hitam dengan nomor polisi KT 3175 UG.
“Saat ini seorang pelaku bernama Iwan sebenarnya telah diringkus pada 17 Maret 2012 di Muara Kaman dalam kasus curanmor. Ternyata sepeda motor yang menjadi barang bukti itu milik korban yang dinyatakan hilang,” kata Kasubag Humas Polres Kukar AKP Suwarno. Informasi yang dihimpun media ini dari seorang guru SMA Yayasan Pendidikan (YP) 17 yang enggan namanya disebut, Nur Rahman dinyatakan hilang sejak 15 Maret 2013.Dia tak pulang ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga untuk menginap di rumah neneknya di Desa Sumber Sari, SP 1, Kecamatan Sebulu.  Korban yang tercatat sebagai siswa di SMA tersebut akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang diselenggarakan di SMA 2 Sebulu. Sekolah tempat Rahman menempuh pendidikan masih berstatus swasta dan belum bisa menyelenggarakan ujian secara mandiri.

Awalnya, dengan maksud dapat menempuh SMA 2 dengan jarak yang lebih dekat, korban memilih menginap di laboratorium milik SMA YP 17 yang masih masuk Kecamatan Muara Kaman. Dari laboratorium itu, jarak tempuh menuju SMA 2 Sebulu sekira 12 kilometer. Korban pun sempat mengikuti ujian pertama pada hari Rabu, 14 Maret 2013 di SMA 2 Sebulu. Nah, karena jarak tempuh dirasa masih cukup jauh, dia berpamitan via telepon seluler kepada orangtuanya untuk menginap di rumah neneknya.
“Jadi waktu hari pertama, hari Rabu itu, dia sempat ikut ujian di SMA2. Dia minta izin dengan pihak sekolah untuk menginap di ruang laboratorium milik SMA YP 17,” ucap guru tersebut.
Rupanya, komunikasi via handphone itu adalah percakapannya terakhir dengan orangtuanya. Korban tak pulang dan dikabarkan hilang. Guru SMA YP 17 sempat heran lantaran hari kedua ujian, Rahman tak muncul. Padahal UAS menjadi salah satu penentu kelulusan. Pihak sekolah berinisiatif untuk mendatangi keluarga dan menanyakan ketidakhadiran Rahman.
Kedatangan pihak sekolah malah membuat keluarga terkejut. Apalagi, setelah menghubungi nenek korban, ternyata Rahman tak pernah mendatangi rumah neneknya. Keluarga yang khawatir lantas mencari keberadaan Rahman dan melaporkan peristiwa itu ke Mapolsek Muara Kaman.
Mapolsek Muara Kaman yang berkoordinasi dengan Mapolres Kukar rupanya mendapat informasi jika sepeda motor yang digunakan Rahman cocok dengan sepeda motor yang diamankan sebagai barang bukti curanmor di Mapolres Kukar. Tersangka Iwan saat itu sudah diringkus.
Tersangka ini diketahui merupakan target operasi polisi yang diamankan di sebuah rumah di Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Minggu (17/3) lalu. Saat dipertemukan dengan tersangka di Mapolres Kukar, orangtua korban mendapat informasi jika tersangka mengambil sepeda motor tersebut dari sebuah lokasi di Desa Sumber Sari, saat korban bersama Wi. Keterangan mengada-ada tersangka selanjutnya dikembangkan polisi untuk menelusuri keberadaan korban dan Wi yang disebut oleh tersangka Iwan.
Dari penyelidikan polisi, akhirnya diketahui tersangka mengakui jika dirinya bersama Wi menguasai kendaraan milik korban dengan cara menganiaya Rahman di sebuah jurang di Kecamatan Sebulu. Kedua tersangka menghabisi nyawa korban dengan cara mengayunkan sebilah badik ke arah belakang kepala sehingga tengkorak korban pecah.
Sebelum penikaman, korban yang berencana menginap di rumah nenek diajak kedua tersangka untuk berburu di hutan pada malam hari.  Bukannya berburu, Wi dari arah belakang korban mengayunkan badik ke bagian kepala. Melihat korbannya tak berdaya, Iwan justru menusuk korban di bagian pinggul. Korban selanjutnya berusaha kabur ke arah gunung. Saat itulah, kedua tersangka membawa sepeda motor beserta sebuah ponsel milik korban.
“Jadi korban ini sempat ditinggal dalam keadaan luka parah. Kejadiannya sekitar dua hari setelah tersangka Iwan di ringkus polisi atas kasus curanmor. Saat diintrogasi, barulah tersangka Iwan mau menunjukkan lokasi dia menganiaya korbannya tersebut,” kata Suwarno.
Polisi yang mendapat informasi dari tersangka Iwan, langsung mendatangi lokasi pada (25/3) sekitar pukul 23.00 Wita. Jurang yang menjadi lokasi penemuan mayat tersebut sedalam sekitar 36 meter. Sedangkan dari arah jalan raya menuju lokasi jurang tersebut kira-kira mencapai 70 meter. Di daerah tersebut juga tidak ditemui rumah warga. Korban sendiri ditemukan dengan mengenakan sebuah celana panjang dan sweater abu-abu. Juga ditemukan topi berwarna ungu yang dikenakan korban. Kondisi korban tinggal tengkorak lantaran telah lama dibiarkan di tanah.
“Setelah menemukan korban, kami langsung melakukan olah TKP serta melakukan pengejaran terhadap tersangka Wi. Termasuk melakukan pengembangan terhadap kasus ini untuk mencari bukti serta petunjuk lainnya. Sedangkan jenazah korban langsung kami bawa ke RSUD Abdul Wahab Syahranie untuk dilakukan visum,” ungkap Suwarno. (*/qi/far)
Sumber : http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/15805/pamit-ujian-siswa-tinggal-tengkorak.html