rp-152-m-untuk-keruk-sungai

Posted On May 29, 2017 By In BEKIAS KEDIP MATA And 612 Views

Banjir Tiga Kabupaten Lambat Surut, Ternyata Ini Sebabnya

Rp 152 M untuk Keruk Sungai


SIKLUS TAHUNAN: Sudah sebulan hingga kemarin (28/5) rumah penduduk di Desa Liang Ilir, Kota Bangun yang terendam banjir. Masjid Al-Ukhuwwah di Jalan Awang Long RT 01 ini. (SAIPUL ANWAR/KP)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Banjir tahunan yang melanda kawasan hulu Sungai Mahakam bakal segera teratasi. Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) akan menggulirkan megaproyek penanganan bencana tersebut. Miliaran rupiah dikucurkan dalam proyek tahun jamak itu.

Sekkab Kukar Marli mengatakan, masalah banjir dari siklus tahunan yang terjadi di kawasan hulu hingga hilir di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) Kaltim itu harus dipecahkan. Salah satunya, mengeruk sedimentasi di Sungai Belayan, melalui proyek multiyears contract 2016–2021. Aliran Sungai Belayan dianggap vital agar banjir kiriman dari kawasan hulu yang akan mengalir ke hilir, segera terbuang ke laut.

Marli menyebut, proyek pengerukan Sungai Belayan di Kecamatan Kembang Janggut itu bakal menelan Rp 152 miliar. Kesepakatan Pemkab Kukar dan DPRD Kukar juga sudah tertuang dalam Perda Proyek Multiyears. “Saat ini, aliran Sungai Belayan sudah sangat mengkhawatirkan. Sedimentasinya tinggi dan menghambat laju air. Kami harap, luapan Sungai Belayan tidak lagi membuat banjir besar,” kata Marli.

Menurut dia, salah satu pemicu terjadinya sedimentasi di Sungai Belayan adalah pembukaan lahan di sekitar sungai. Jadi, kawasan resapan air juga menjadi gundul. Kondisi ini, tutur dia, memang perlu menjadi perhatian serius. Terkait realisasi pengerukan Sungai Belayan itu, nantinya menyesuaikan kondisi APBD Kukar pada tahun yang sedang berjalan. “Selain perlu daerah resapan air, juga perlu alur pembuangan air dari hulu ke hilir yang bagus,” tambah Marli.

Sementara itu, Camat Kota Bangun Mawardi membenarkan, banjir di kecamatannya merupakan kiriman dari hulu. Selain mendapat kiriman banjir, luapan Sungai Belayan memperparah kondisi banjir. Jadi, Kota Bangun dan Muara Kaman menjadi daerah yang terkurung oleh air. Jika Sungai Belayan dikeruk, diharapkan air tak lagi mengepung kawasan Kota Bangun dan Muara Kaman.

Menurut dia, kawasan hulu di Kukar tiap tahunnya memang sering mengalami banjir. Namun, dalam periode beberapa tahun, banjir yang datang lebih besar di banding tahun yang lain. Rata-Rata penurunan air sudah mencapai 5 sentimeter. “Banjir di hulu ini sebenarnya terjadi tiap tahun. Tapi, volumenya saja yang berbeda. Untuk lima tahun atau sepuluh tahun sekali biasanya kembali tinggi,” terangnya.

Banjir kali ini, ujar dia, hampir menyerupai 2007 silam. Selisihnya hanya sekitar 40-an sentimeter dibanding tahun itu. Sedangkan 2013, banjir dengan volume cukup tinggi juga sempat terjadi. Namun, ketinggiannya tidak seperti tahun 2007 dan 2017. “Sudah seperti siklus tahunan yang terjadi. Biasanya saat intensitas hujan tinggi dan lama, maka akan banjir di kawasan hulu ini,” ucap Mawardi. “Yang pasti Alhamdulillah tahun ini lebih rendah ketinggian banjirnya dibanding tahun 2007 lalu,” sambungnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kukar Guntur mengatakan, proyek penanggulangan banjir di kawasan hulu Kukar tak hanya terkait proyek Sungai Belayan. Tetapi juga proyek multiyears lanjutan pembangunan Jalan Tuana Tuha menuju Sebelimbingan di Kecamatan Kota Bangun. Akses jalan tersebut perlu ditingkatkan, mengingat menjadi penghubung utama antarkecamatan di hulu Kukar.

Menurut dia, jika memasuki musim banjir, akses jalan tidak bisa lagi digunakan. Jadi, memicu melambungnya harga keperluan pokok bagi warga di hulu Kukar. Alat transportasi darat pun harus menggunakan feri penyeberangan berkali-kali. Untuk akses terjauh menuju Kecamatan Tabang, bahkan bisa mencapai enam kali penyeberangan. Untuk anggaran yang diusulkan melalui proyek multiyears contract tersebut mencapai Rp 202 miliar.

“Bayangkan saja, kalau sudah banjir, jalan tidak bisa digunakan, karena terendam air. Padahal, keberadaannya vital. Nah, yang vital seperti ini kami usahakan bisa maksimal penanganannya,” tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Dia membenarkan, banjir di kawasan hulu seperti Kubar, Mahakam Ulu, dan sebagian kecamatan di hulu Kukar bisa lebih cepat surut. Sedangkan dari kawasan tengah menuju hilir, seperti Kota Bangun dan Muara Kaman akan lebih lama surut. Maka, tak ada alasan untuk memperbaiki aliran air dari hulu ke hilir. Salah satunya dengan melakukan pengerukan sungai.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Kaltim Veridiana Huraq Wang mengatakan, sejauh ini belum ada alokasi APBD Kaltim untuk pengendalian banjir tahunan di Mahakam Ulu (Mahulu), Kutai Barat (Kubar), dan Kutai Kartanegara (Kukar). Namun, diakuinya perlu diupayakan ke depan untuk memberikan perhatian sekalipun kondisi keuangan daerah terbatas.

Tidak bisa pula hanya mengandalkan APBD. Perlu juga mendorong agar APBN memberikan uluran tangan. “Harus jeli memperhitungkan. Jangan sampai dana yang turun sedikit, tapi manfaatnya tidak efektif. Mana (aliran sungai) yang perlu diprioritaskan,” kata legislator DPRD Kaltim daerah pemilihan Kukar, Kubar, dan Mahulu.

Dalam penanganan, jangan hanya menyelesaikan di level hulu. Kelestarian alam paling penting. Penggundulan hutan dan lahan harus dikendalikan. “Izin usaha perkebunan dan pertambangan diperketat. Karena efeknya pendangkalan ke anak sungai dan sungai,” ujar dia.

Diketahui, Kaltim Post mengunjungi Kota Bangun, Kukar, Jumat (27/5). Meski sebagian besar kecamatan ini terendam banjir, warga tetap beraktivitas dengan transportasi sungai, seperti menggunakan perahu. Sebab, jalan raya tak bisa dilintasi mobil maupun sepeda motor, karena banjir sekitar 1–2 meter.

Kala itu, saat salat Jumat, warga tetap menjalankan ibadah itu meski Masjid Al-Ukhuwwah di Jalan Awang Long, RT 01, Desa Liang Ilir, Kota Bangun, terendam banjir. Warga bersama pengurus masjid membuat panggung di dalam masjid untuk menghindari genangan air. Jadi, rumah ibadah itu tetap bisa digunakan untuk salat. (qi/ril/rom/k8)

Sumber : http://kaltim.prokal.co/read/news/301572-banjir-tiga-kabupaten-lambat-surut-ternyata-ini-sebabnya.html

About