349-warga-masih-mengungsi

Posted On May 24, 2017 By In BEKIAS KEDIP MATA And 602 Views

Banjir di Kukar Belum Surut, Ribuan Jiwa Terdampak

PROKAL.CO, TENGGARONG. Banjir di Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegera (Kukar), mulai mengalami penurunan. Namun di Kecamatan Muara Kaman ketinggian air justru masih bertahan hingga 3 meter. Bahkan jumlah pengungsi di daerah itu 349 jiwa dari 54 kepala keluarga (KK).

Banjir terparah di Muara Kaman menerjang Desa Sedulang dan Liang Buaya. Ketinggian air lebih 3 meter. Sedangkan di Desa Muara Kaman Ulu dan Muara Kaman Ilir mencapai 2 meter. Untuk rumah yang berada di bantaran sungai hampir seluruhnya tidak dapat dilalui. Ketinggian air di dalam rumah mencapai dua meter. Lokasi pengungsian berada di Dusun Tebalai Muara Kaman Ilir dan Dusun Benua Lawas Desa Muara Kaman Ulu.

“Saat ini selain makanan dan obat-obatan para pengungsi juga membutuhkan terpal untuk membangun tenda. Jumlah pengungsi bertambah terus,” ujar Kasi Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Muara Muntai, Asril.

Dia menerangkan, Dinas Sosial (Dinsos) Kukar telah mengirimkan 100 lembar terpal sebagai tenda dan alas pengungsi. Selain itu bantuan sembako juga mulai disalurkan seperti beras, mie instan, gula, minyak goreng dan berbagai lauk pauk cepat saji.

Untuk pasokan air bersih, di Desa Tebalai sudah disiagakan mobil tangki berkapasitas 10 ribu liter. Adapun kebutuhan listrik juga telah dioperasikan genset untuk sekadar menyalakan lampu di malam hari.

“Untuk Muara Kaman belum ada yang terserang penyakit. Hanya genset di Desa Muara Kaman Ulu belum dioperasikan karena kabelnya belum tersedia,” ujarnya.
Sebelunya, Bupati Kukar Rita Widyasari menegaskan bahwa banjir yang terjadi saat ini bukan karena buruknya drainase atau air hujan. Melainkan merupakan siklus tiga tahunan. Karenanya bagi warga hulu sudah sangat mengerti bagaimana mensiasati banjir yang terjadi. Seperti membuat rumah panggung hingga mendisain rumah dengan lantai bertingkat

Menurut Rita, kawasan yang terendam banjir adalah Tabang, Kenohan, Muara Kaman dan Muara Muntai hal itu karena pemukiman penduduk di hulu berada di tepian Sungai Mahakam yang notabenya dataran rendah. Penanganan paling akurat dan jangka panjang adalah merelokasi pemukiman ke daerah yang lebih tinggi. Namun Rita mengakui hal itu memerlukan dukungan anggaran yang besar dan waktu yang tidak sebentar.

“Sebenarnya solusinya ya relokasi, karena itu siklus tiga tahunan, makanya kondisinya sama waktu 2014 lalu, selama mereka tinggal di bantaran sungai saat sungai pasang pasti banjir,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kukar, tercatat 3.637 rumah terendam di lima kecamatan di kawawasan hulu Kukar. Sebanyak 3.504 KK atau 13.730 jiwa menjadi korban. Di Kecamatan Kota Bangun sebanyak 560 rumah terendam, 694 KK dan 2.525 jiwa menjadi korban. Banjir tertinggi berada di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan. Ketinggian air di kawasan ini mencapai lima meter. Sedangkan di Desa Kota Bangun Seberang, ketinggiannya sempat mencapai 4,5 meter.

Terputusnya sejumlah akses tranportasi darat akibat terendam banjir membuat sejumlah harga kebutuhan pokok di kawasan hulu Kukar meroket. Seperti harga tabung elpiji 3 kilogram yang biasanya dijual 20 ribu, kini mencapai Rp 30 ribu. Bahkan di kecamatan paling ujung seperti Tabang, bisa mencapai Rp 40 ribu. Kondisi tersebut semakin menambah beban para korban banjir yang hingga kini belum tersentuh bantuan pemerintah. (man/nha)

Sumber : http://samarinda.prokal.co/read/news/9236-banjir-di-kukar-belum-surut-ribuan-jiwa-terdampak

About